Melgisdays com|Tanjab Timur – Isu dugaan ketidaksesuaian kapasitas Gross Tonnage (GT) pada program bantuan kapal nelayan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) tengah menjadi sorotan publik. Perbincangan hangat ini mencuat setelah beredar informasi bahwa kapal bantuan yang direncanakan 10 GT diduga berubah menjadi 16 GT saat direalisasikan.
Menanggapi hal tersebut, Dinas Perikanan Kabupaten Tanjabtim memberikan klarifikasi resmi. Kepala Dinas Perikanan Tanjabtim, Hendri, menegaskan bahwa kapal yang dipesan tetap mengacu pada perencanaan awal, yakni kapal berkapasitas 10 GT sesuai dokumen pengadaan.
Menurut Hendri, perbedaan angka yang muncul di tengah masyarakat lebih disebabkan oleh perbedaan pemahaman dalam menghitung Gross Tonnage kapal.
Penjelasan lebih rinci disampaikan Direktur PT Cahaya Anggun Segara, Bambang, selaku pelaksana pekerjaan. Ia menyebutkan bahwa Gross Tonnage bukan dihitung dari ukuran panjang, lebar, atau tinggi kapal, melainkan berdasarkan volume total seluruh ruang tertutup di dalam kapal.
“Perbedaan angka menjadi 16 GT terjadi karena jumlah ruang tertutup pada kapal lebih banyak. Ini bukan berarti ukuran kapal bertambah, tetapi karena adanya tambahan ruang untuk kebutuhan operasional seperti navigasi dan perangkat elektronik,” jelas Bambang melalui video conference, Selasa (7/4/2026).
Ia menambahkan, kapal berbahan fiber yang diproduksi memiliki lebih banyak ruang tertutup dibandingkan kapal kayu tradisional yang dijadikan acuan survei awal. Ruang tambahan tersebut difungsikan untuk menyimpan peralatan penting seperti GPS dan perangkat navigasi lainnya, demi menunjang keselamatan dan efisiensi kerja nelayan.
Bambang juga menegaskan bahwa pihaknya mampu menyesuaikan kapal menjadi 10 GT dengan cara mengurangi ruang tertutup. Namun langkah tersebut dinilai tidak ideal.
“Kami bisa saja menurunkan menjadi 10 GT tanpa mengubah dimensi kapal, cukup dengan mengurangi ruang tertutup. Tapi itu justru merugikan nelayan karena ruang tersebut penting untuk keamanan peralatan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia memastikan bahwa kapal yang diproduksi merupakan kapal baru dan telah sesuai dengan spesifikasi dalam dokumen perencanaan serta hasil survei kebutuhan di lapangan.
Program bantuan kapal nelayan 10 GT sendiri merupakan salah satu program strategis Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur di bawah kepemimpinan Bupati Dillah Hikmah Sari bersama Wakil Bupati Muslimin Tanja.
Program ini dirancang sebagai langkah inovatif untuk mendorong percepatan pengentasan kemiskinan di wilayah pesisir, khususnya bagi keluarga nelayan. Selain meningkatkan kapasitas armada, program ini juga bertujuan memperluas jangkauan melaut serta meningkatkan hasil tangkapan.
“Kita ingin nelayan Tanjabtim menjadi lebih tangguh dan berdaya saing. Dengan jangkauan melaut yang lebih luas, diharapkan hasil tangkapan meningkat signifikan. Program ini juga berbasis kelompok dengan dukungan sarana prasarana serta penguatan SDM secara terintegrasi,” ujar Bupati Dillah dalam kesempatan terpisah.
Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan masyarakat dapat memahami bahwa perbedaan angka GT bukanlah bentuk penyimpangan, melainkan perbedaan metode perhitungan yang justru mengedepankan aspek keselamatan dan kebutuhan nelayan di lapangan.(Red)

